Azerbaijan Bersiap Jadi Tuan Rumah World Urban Forum 2026 di Baku, Ajang Besar yang Harus Dimanfaatkan Serius

Kota Baku, ibu kota Azerbaijan, tengah bersiap menjadi tuan rumah World Urban Forum (WUF) ke-13 yang akan digelar pada 17–22 Mei 2026. Forum dua tahunan yang diinisiasi UN-Habitat ini merupakan salah satu ajang global terbesar untuk membahas masa depan kota, tantangan urbanisasi, dan solusi perumahan layak di seluruh dunia. Dengan tema yang berfokus pada krisis perumahan global dan upaya membangun kota yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, WUF13 di Baku diharapkan menjadi ruang penting untuk merumuskan arah kebijakan urban dunia di tengah tekanan perubahan iklim, ketimpangan, dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat.

Pemerintah Azerbaijan menjadikan penyelenggaraan WUF13 sebagai momentum strategis untuk menegaskan posisi Baku dalam peta kota global. Presiden Ilham Aliyev bahkan telah menetapkan 2026 sebagai “Tahun Perencanaan Kota dan Arsitektur” di Azerbaijan, sebuah kebijakan payung yang mendorong pembaruan kebijakan tata ruang, penguatan budaya arsitektur, dan akselerasi pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional. Pusat penyelenggaraan forum direncanakan berlokasi di kawasan stadion dan fasilitas konferensi skala besar, yang akan disiapkan untuk menampung ribuan peserta dari kalangan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga generasi muda. Dalam konteks tata kelola modern, komitmen semacam ini menuntut standar transparansi dan pengelolaan informasi yang jelas, sebagaimana prinsip kejelasan dan perlindungan pengguna yang juga banyak ditekankan dalam kebijakan privasi digital masa kini, misalnya pada platform Rajapoker Situs.

UN-Habitat menyebut WUF13 di Baku akan menempatkan isu perumahan sebagai fokus utama. Hampir 3 miliar orang di dunia saat ini hidup dalam kondisi perumahan yang tidak layak, dengan lebih dari 1,1 miliar di permukiman informal dan sekitar 300 juta mengalami tunawisma. Forum ini dirancang sebagai ruang untuk membahas bagaimana perumahan dapat menjadi pengungkit untuk membangun kota yang lebih inklusif, aman, dan rendah emisi, sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Berbagai sesi, mulai dari diskusi kebijakan, pameran solusi, hingga “solutions hub” akan mempertemukan pemerintah, pengembang, komunitas, dan lembaga internasional untuk berbagi praktik baik dan menawarkan model baru pembiayaan serta tata kelola perumahan.

Dari sisi geopolitik dan citra internasional, menjadi tuan rumah WUF13 memberi peluang besar bagi Azerbaijan untuk menampilkan transformasi Baku dari kota minyak menjadi pusat urban modern dengan ikon-ikon arsitektur baru dan revitalisasi kawasan bersejarah. Namun, di balik narasi itu, tetap ada pertanyaan yang perlu diajukan secara kritis: sejauh mana transformasi fisik kota juga dibarengi peningkatan kualitas hidup warga, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan komunitas yang riskan terpinggirkan oleh proyek-proyek prestisius? Pengalaman banyak kota dunia menunjukkan bahwa agenda “kota global” sering kali menimbulkan gentrifikasi dan mendorong warga berpenghasilan rendah menjauh dari pusat kota, jika tidak disertai kebijakan perumahan yang kokoh.

World Urban Forum sendiri dikenal sebagai forum non-legislatif, artinya tidak menghasilkan keputusan mengikat seperti konferensi antarnegara formal. Namun, forum ini sering menjadi ruang penting pembentukan norma dan wacana bersama, seperti penguatan implementasi New Urban Agenda dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya memastikan bahwa kehadiran berbagai aktor—termasuk kota-kota dari negara berkembang, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas akar rumput—bukan sekadar simbolis, melainkan benar-benar terlibat dalam perumusan ide dan solusi. Hal ini sejalan dengan gagasan umum mengenai peran forum global dan tata kelola kota yang banyak dibahas dalam referensi terbuka seperti Wikipedia, yang menekankan pentingnya partisipasi luas dalam merancang masa depan perkotaan.

Persiapan Baku sebagai tuan rumah juga memunculkan harapan bahwa forum ini tidak hanya akan membahas kota-kota besar di belahan Barat, tetapi memberi ruang lebih luas bagi pengalaman kota-kota di Asia, Afrika, dan kawasan lain yang menghadapi tantangan berbeda: pertumbuhan penduduk pesat, informalitas tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta tekanan iklim yang makin berat. Jika Baku dan UN-Habitat mampu menjadikan WUF13 sebagai ruang di mana pengalaman kota-kota menengah dan kecil dari negara berkembang diangkat dan dipelajari secara serius, maka forum ini berpotensi menjadi lebih relevan dan tidak terjebak dalam pameran jargon “smart city” semata.

Di sisi lain, banyak pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah forum global tidak hanya diukur dari megahnya acara dan banyaknya peserta, tetapi dari tindak lanjut konkret setelah forum berakhir. Pertanyaannya: apakah WUF13 akan menghasilkan peta jalan yang jelas untuk mengatasi krisis perumahan? Apakah ada komitmen pembiayaan baru, mekanisme kemitraan yang lebih adil, atau reformasi kebijakan yang benar-benar meringankan beban warga yang hidup di permukiman kumuh dan rumah tak layak huni? Tanpa tindak lanjut semacam itu, forum berisiko sekadar menjadi ajang jejaring dan promosi, bukan motor perubahan.

Bagi Indonesia dan negara-negara lain yang sedang menghadapi persoalan serupa—krisis perumahan, banjir perkotaan, kemacetan, dan ketimpangan layanan publik—WUF13 di Baku dapat menjadi laboratorium kebijakan. Pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas kota dari Indonesia berpeluang untuk menunjukkan inovasi lokal, mulai dari program penataan kampung, inisiatif pembiayaan mikro perumahan, hingga upaya mengintegrasikan transportasi publik dengan tata ruang. Namun, peluang ini baru bermakna jika diikuti dengan kesediaan untuk juga mendengar dan belajar, bukan hanya mempresentasikan keberhasilan.

Pada akhirnya, keputusan Azerbaijan menjadi tuan rumah World Urban Forum 2026 di Baku adalah langkah yang menempatkan negara itu di panggung utama percakapan global tentang masa depan kota. Keberhasilan forum ini akan sangat ditentukan oleh seberapa jujur dan terbuka para pihak mengakui tantangan yang ada, seberapa berani mereka mengusulkan perubahan kebijakan yang berpihak pada warga rentan, dan seberapa serius dunia internasional menindaklanjuti hasil-hasil diskusi menjadi aksi nyata di setiap kota. Tanpa itu, WUF13 hanya akan menambah daftar panjang konferensi megah yang indah dalam dokumentasi, tetapi tumpul dalam mendorong transformasi di lapangan.

Beranda